Rabu, 05 Desember 2012

BILINGUALISME, DIGLOSIA, ALIH KODE dan CAMPUR KODE



A.    Pendahuluan
Masyarakat yang tutur bahasa  yang tertutup atau sengaja tidak ingin berhubungan dengan masyarakat lain dan tetap menjadi masyarakat yang monolingual. Sebaliknya, masyarakat yang tutur katanya terbuka yang mempunyai hubungan dengan masyarakat lain yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu adalah apa yang ada di dalam sosiolinguistik disebut Bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode. Dalam hal ini kami hanya membahas Bilingualisme dan Diglosia serta hubungan antara keduanya, alih kode dan campur kode.
B.     Bilingualisme
Bilingualisme (ing : bilingualism) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan dalam Kamus Linguistik, bilingualisme diartikan sebagai pemakai dua bahasa atau lebih oleh penutur bahasa dalam pergaualan sehari-hari secara bergantian. Sedangkan menurut Mackey bilingualisme bukanlah fenomena sistem bahasa melainkan fenomena pertuturan atau penggunaan bahasa yakni praktik penggunaan bahasa secara bergantian. Bilingualisme sering juga disebut dengan kedwibahasaan. Bilingualisme bukan ciri kode melainkan ciri pengungkapan. Bilingualisme memiliki dua tipe yang pertama bilingualisme setara yaitu bilingualisme yang terjadi pada penutur yang memiliki penguasaan bahasa secara relatif sama. Di dalam bilingualisme setara ini terdapat proses berfikir. Tipe yang kedua yakni bilingualisme majemuk, bilingualisme ini terjadi pada penutur yang tingkat kemampuan menggunakan bahasanya tidak sama. Sering terjadi kerancuan dalam bilingualisme ini sehingga dapat menyebabkan interferensi. Interferensi disini ialah masuknya suatu bahasa kedalam bahasa yang lain. Faktor penentu yang menyebabkan bilingualisme ialah bahasa yang digunakan, bidang penggunaan bahasa, dan mitra berbahasa. Misalnya: joko dapat berbahasa jawa dan juga menguasai bahasa Indonesia.

C.    Diglosia
Diglosia menurut Ferguson yakni fenomena penggunaan ragam bahasa yang dipilih sesuai dengan fungsinya. Memiliki tipe rendah dan tinggi, tipe tinggi biasanya berhubungan dengan agama, pendidikan , dan aspek budaya yang tinggi sedangkan ragam rendah digunakan di rumah, pabrik dan sebagainya. Berbeda dengan Ferguson, Fishman beranalisa bahwa diglosia mengacu pada penggunaan bahasa yang berbeda dengan fungsi yang berbeda.diglosia dapat dipilah menjadi dua profil yakni diglosia pada masyarakat monolingual yang berasumsi fenomena pemilihan ragam bahasa seperti dialek dan register, dan diglosia pada masyarakat bilingual yaitu fenomena pemilihan dan penggunaan salah satu masyarakat bahasa sesuai dengan fungsinya. Landasan dalam diglosia ini ialah pertimbangan fungsi bahasa dalam menentukan pilihan bahasa diantara dua bahasa atau lebiih, bukan kebiasaan dan kemampuan menggunakan dua bahasa. Situasi diglosia di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu situasi pilihan bahasa dan situasi penggunaan varian bahasa. Situasi pilihan bahasa disini membandingakan kedudukan yang tinggi dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa tinggi dan bahasa rendah ditentukan oleh konteks dan situasi kebutuhan alat komunikasi yang dikaitkan dengan fungsi bahasa pilihan. Situasi bahasa yang terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa yang ada dalam masyarakat. Diglosia menitik beratkan pada logat/dialeg ciri khas suatu daerah. Misalnya : dialeg, variasi yang lebih dimunculkan. Contoh dioglosia dalam bahasa jawa : go, re, to, tah, leh, dsb.

D.    Hubungan bilingualisme dan diglosia :
Kemampuan menguasai dua bahasa kemudian disisipi oleh diglosia.
Misalnya: Percampuran bahasa indonesia + bahasa jawa + diglosia.
1.      Kamu mau bayar utang kapan to?
2.      Jangan nesu-nesu gitu to ya!
·         Bilingualisme tanpa diglosia:
Percampuran/ penggunaan dua bahasa tanpa ditambai diglosa. Bisa terjadi ketika seseorang bercampur kode, bahasa Indonesia disisipi bahasa jawa.
Misalnya :
1.      Kapan kamu bayar utang?
2.      Bagaimana bisa kamu dapat duit?
·         Diglosia tanpa bilingualisme:
Tanpa penggunaan dua bahasa tapi menggunakan diglosia. Bahasa jawa disisipi diglosa atau bahasa indonesia di sisipi diglosa.
Misalnya :
1.      Wes go ojo nanges. (bahasa jawa yang disisipi diglosa go,ciri khas kota pati)
2.      Jangan begitu to. (bahasa Indonesia + diglosa to)
·         Tanpa bilingualisme tanpa diglosia :
Hanya menggunakan satu bahasa. Hanya menggunakan bahasa indonesia saja atau bahasa jawa saja.
Misalnya :
1.      Joko sedang membaca novel di kamar.
2.      Aku ora seneng maca novel.

E.     Pengertian Kode
Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia), juga mengacu kepada variasi bahasa, seperti varian regional (bahasa Jawa dialek Banyuwas, Jogja-Solo, Surabaya), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (bahasa Jawa halus dan kasar), varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa lawak).
Kenyataan seperti di atas menunjukkan bahwa hierarki kebahasaan dimulai dari bahasa/language pada level paling atas disusul dengan kode yang terdiri atas varian, ragam, gaya, dan register.
F.     Alih Kode
Alih kode (code switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Jawa. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (languagedependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih kode masing-masing bahasa masih cenderung mengdukung fungsi masing-masing dan dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Suwito (1985) membagi alih kode menjadi dua, yaitu :
1. Alih Kode Ekstern : Alih kode yang berupa alih bahasa, seperti dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Inggris atau sebaliknya.
2. Alih Kode Intern : Alih kode yang berupa alih varian regional, seperti dari bahasa Jawa ngoko merubah ke Krama.
·             Beberapa faktor yang menyebabkan alih kode adalah:
1. Penutur
Seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena suatu tujuan. Misalnya mengubah situasi dari resmi menjadi tidak resmi atau sebaliknya.
2. Mitra Tutur
Mitra tutur yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud alih varian dan bila mitra tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda cenderung alih kode berupa alih bahasa.
3. Hadirnya Penutur Ketiga
Untuk menetralisasi situasi dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda.
4. Pokok Pembicaraan
Pokok Pembicaraan atau topik merupakan faktor yang dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan yang bersifat formal biasanya diungkapkan dengan ragam baku, dengan gaya netral dan serius dan pokok pembicaraan yang bersifat informal disampaikan dengan bahasa tak baku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya.
5. Untuk membangkitkan rasa humor
Biasanya dilakukan dengan alih varian, alih ragam, atau alih gaya bicara.
6. Untuk sekadar bergengsi
Walaupun faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor sosio-situasional tidak mengharapkan adanya alih kode, terjadi alih kode, sehingga tampak adanya pemaksaan, tidak wajar, dan cenderung tidak komunikatif.
G.    Campur Kode
Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence).
·         Latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1.      Attitudinal Type : Tipe yang berlatar belakang pada sikap penutur.
2.    Linguistik Type : Tipe yang berlatar belakang pada kebahasaan.
Kedua tipe itu saling bergantung dan tidak jarang bertumpang tindih (overlap). Misalnya bercampur kode bahasa Belanda di Indonesia menunjukkan bahwa penuturnya termasuk orang “tempo doeloe”, terpelajar dan “bukan orang sembarangan”. Sedangkan campur kode dengan bahasa Inggris dapat memberi kesan bahwa si penutur “orang masa kini”, berpendidikan cukup dan mempunyai hubungan luas.
Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa. Artinya penutur yang mempunyai latar belakang sosial tertentu. Pemilihan campur kode demikian dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya di dalam masyarakat.
  • Beberapa macam wujud campur kode
a.      Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata
Contoh :
Mangka sering kali sok sering ada kata-kata seolah-olah bahasa daerah itu kurang penting
Padahal sering kali sering ada kata-kata seolah-olah bahasa daerah itu kurang penting
“Padahal sering kali ada anggapan bahwa bahasa daerah itu kurang penting”.
b.      Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa
Contoh :
Nah karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya tak teken
Nah karena saya sudah terlanjur baik dengan dia, ya saya tanda tangan
“Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan dia, maka saya tanda tangani”.
c.       Penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster
Banyak klap malam yang harus ditutup.
Hendaknya segera diadakan hutanisasi kembali.
d.      Penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata
Contoh :
Sudah waktunya kita menghindari backing-backingan dan klik-klikan.
Saya sih ­bolah-boleh saja, asal dia tidak tonya-tanya lagi.
e.       Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom
Contoh :
Pada waktu ini hendaknya kita hindari cara bekerja alon-alon asal kelakon
f.       Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa
Contoh :
Parhne me sima ki bahut ruci hai vah kahti hai education in necessary for life
Belajar bagi sima dari banyak perhatian adalah ia berkata adalah pendidikan adalah perlu untuk hidup
Sima sangat menaruh perhatian pada belajar. Ia berkata, “Pendidikan sangat diperlukan dalam kehidupan”.


1 komentar: